Senin, 26 Oktober 2015

Review Jurnal Perilaku Konsumen

Analysis of Forming Variable Consumer Satisfaction In Retail
Hypermarkets in Paris
Raudhah Maria Ulfah
Faculty of Economics

1. Pendahuluan

Industri Ritel yang tumbuh pesat dewasa ini merupakan hasil dari meningkatnya beragam hasil produksi yang dikemas dan ditata dalam rupa yang yang lebih menarik, dan juga keperluan konsumen terhadap barang meningkat baik dalam kualitas maupun kuantitas. Peluang inilah yang ditangkap oleh pemodal asing yang demikan agresif membangun jaringan ritel di kota-kota besar di Indonesia. Melihat banyaknya konsumen yang mempunyai keinginan dan kebutuhan beraneka ragam saat ini, membuat peluang besar bagi para pelaku bisnis untuk mendirikan tempat ritel modern di kota Paris, bisa dilihat ritel modern baru di Paris, misalnya Hypermart,Carrefour, dan masih ada beberapa ritel modern yang lain.


 2.Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan data primer yang bersumber dari responden yang diambil melalui kuesioner yang disebarkan kepada konsumen hipermarket di Paris pada bulan Mei – Agustus 2008. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik sampel random yaitu pengambilan anggota sampel dari populasi yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada pada populasi. Mengingat besarnya populasi, maka dalam penelitian ini peneliti mengambil sampel sebesar 100 orang konsumen pada ritel hipermarket di Paris.

3. Hasil Penelitian dan Pembahasan

1. Analisis Korelasi Antar Variabel
Untuk melihat apakah ada hubungan antar variabel pembentuk kepuasan konsumen pada ritel hipermarket di Paris dan memudahkan membuat hipotesis, maka dilakukan dengan menggunakan Korelasi Pearson seperti dibawah ini :
 
Tabel 3. Pearson Correlations
Correlations

Correlations


Physical
Andal
Perceptive
Assurance
Empathy
Fisik  Pearson Correlation
Sig.(2-tailed)
N
1
.
100
376
000
100
570
000
100
398
000
100
243
015
100
Andal  Pearson Correlation
Sig.(2-tailed)
N
376
000
100
1
.
100
765
000
100
426
000
100
373
000
100
Perceptive Pearson Correlation
Sig.(2-tailed)
N
570
000
100
765
000
100
1
.
100
692
000
100
644
000
100
Assurance  Pearson Correlation
Sig.(2-tailed)
N
398
000
100
426
000
100
692
000
100
1
.
100
822
000
100
Empathy  Pearson Correlation
Sig.(2-tailed)
N
243
015
100
373
000
100
644
000
100
822
000
100
1
.
100

Sumber : data diolah spss.11
Dari tabel 4.4 diatas dapat dianalisa hubungan korelasi antar komponen pembentuk kepuasan konsumen. Dengan melihat hasil analisis Pearson dengan membuat hipotesis dan pengambilan keputusan dari tiap–tiap korelasi menunjukkan bahwa hubungan korelasi antar komponen pembentuk kepuasan konsumen sangat dekat, hal ini dapat ditunjukkan dengan angka sig. (2-tailed) lebih kecil dari 0.000.

2.Analisis Faktor
Untuk mengetahui seberapa besar hubungan antar variabel – variabel yang membentuk kepuasan konsumen pada ritel hipermarket di Paris maka dilakukan perhitungan dengan menggunakan Tabel Component Matrix seperti berikut :


Tabel 4. Component Matrix
Component
                   1
Physical Evidence               0.619
Realibility                           0.741
Response Resources          0.933
Assurance                          0.857
Empathy                             0.797

Dari tabel tersebut di atas komponen daya tanggap merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan.

4.Kesimpulan dan Penutup
 Dari lima variabel yang telah diuji dan dianalisis dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Hubungan antar variabel pembentuk kepuasan konsumen pada ritel hipermarket di Paris adalah signifikan.
2. Variabel bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan dan empati mampu membentuk komponen utama    kepuasan konsumen.
3. Dari lima variabel yang paling dominan membentuk kepuasan konsumen pada ritel hipermarket adalah variabel Daya Tanggap.
Dengan mengetahui bahwa lima variabel kualitas jasa dapat membentuk kepuasan konsumen pada ritel hipermarket di Paris, maka penelitian ini bisa menjadi masukan bagi pengusaha ritel modern untuk lebih memahami konsumen dan mengaplikasikannya kedalam strategi pemasaran.
Daya Tanggap menunjukkan variabel yang paling mendominasi dalam membentuk kepuasan konsumen berbelanja pada ritel hipermarket di Paris, untuk variabel-variabel yang lain perlu adanya evaluasi dan peningkatan pelayanan yang telah disediakan agar pelayanan kualitas jasa yang disediakan pada ritel hipermarket diterima baik oleh konsumen.



Jumat, 22 Mei 2015

Proses Penulisan Karya Ilmiah

Penelitian ilmiah adalah rangkaian pengamatan yang sambung menyambung, berakumulasi dan melahirkan teori-teori yang mampu menjelaskan dan meramalkan fenomena-fenomena. Penelitian ilmiah sering diasosiasikan dengan metode ilmiah sebagai tata cara sistimatis yang digunakan untuk melakukan penelitian.
Penelitian ilmiah juga menjadi salah satu cara untuk menjelaskan gejala-gejala alam. Adanya penelitian ilmiah membuat ilmu berkembang, karena hipotesis-hipotesis yang dihasilkan oleh penelitian ilmiah seringkali mengalami retroduksi. Berikut adalah proses penulisan karya ilmiah :

A.  Halaman sampul
Berisi judul secara lengkap, kata “karya ilmiah” diajukan sebagai…, lambang, nama penulis, Institusi, tahun, kota.
B.  Lembar Persetujuan
Berisi, Karya Ilmiah oleh…, ini telah disetujui untuk dipresentasikan. Nama lengkap pembimbing 1 dan pembimbing 2, serta tanda tangan keduanya.
C.   Abstrak
Berisi latar belakang, masalah yang diteliti, metode yang digunakan, hasil yang diperoleh, kesimpulan yang dapat ditarik, serta jika ada saran yang diajukan.
Note: Pembuatan abstrak dilakukan ketika peneliti telah sampai pada kesimpulan dari penelitian. Abstrak berisi garis besar dari penelitian yang dilakukan peneliti.
D.  Kata pengantar
Berisi ucapan syukur, ringkasan penelitian, ucapan terimakasih, harapan kritik dan saran yang membangun.
E.  Daftar isi
Memuat judul bab, judul subbab, judul anak subbab yang disertai nomor halaman tempat pemuatannya dalam teks. Semua judul bab dikerik dengan huruf capital.
F.   Daftar tabel
Memuat nomor table, judul table, serta nomor halaman untuk setiap tabel. Judul tabel yang memerlukan lebih dari satu baris diketik dengan spasi tunggal, antara judul tabel yang satu dengan judul tabel yang lain di beri jarak 2 spasi.
G.  Daftar gambar
Cantumkan nomor gambar, judul gambar, dan nomor halaman tempat pemuatannya dalam teks.
BAB 1 PENDAHULUAN
a.   Latar Belakang Penelitian
Diuraikan tentang garis besar yang akan diselidiki/diamati, mengapa diselidiki, bagaimana menyalidikinya dan untuk apa diselidiki atau diteliti.
b.   Identifikasi Masalah
Menguraikan lebih jelas tentang masalah yang telah ditetapkan pada latar belakang penelitian. Di dalamnya berisi rumusan eksplisit masalah yang terkandung pada suatu fenomena. Perumusannya diurut sesuai dengan urutan intensitas pengaruhnya dalam topic penelitian. Bentuknya biasanya berupa kalimat pertanyaan atau dapat pula berupa kalimat pernyataan yang menggugah perhatian.
c.   Batasan masalah
Penggunaannya agar permasalahan yang akan dibahas tidak melebar, dengan pembatasan masalah jenis atau sifat hubungan antara variabel yang timbul dalam perumusan masalah, dan subek penelitian semakin kecil ruang lingkupnya. Batasan masalah biasanya diuraikan dalam bentuk kalimat pernyataan.
d.   Rumusan masalah
Merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat pertanyan-pertanyaan yang hendak dicarikan jawabannya, pernyataan yang lengkap dan rinci mengenai ruang lingkup masalah yang akan diteliti berdasarkan identifikasi masalah. Dalam format kalimat Tanya. Rumusan masalah yang baik akan menampilkan variabel yang akan diteliti, jenis atau sifat hubungan antara variable tersebut, dan subjek penelitian.
e.   Tujuan penelitian
Maksud atau hal-hal yang ingin dicapai, serta sasaran yang dituju oleh peneliti. Di tuangkan dalam bentuk kalimat pernyataan.
f.     Kegunaan Penelitian
Harapan yang berkaitan dengan hasil penelitian, baik praktis maupun teoritis. Sampai seberapa jauh hasil penelitian bermanfaat dalam kegunaan praktis, serta pengembangan sesuatu ilmu sebagai landasan dasar pengembangan selanjutnya. Harus ada keseimbangan antara kegunaan hasil penelitian untuk aspek ilmu dengan aspek praktis.
g.   Kerangka Pemikiran
Uraikan cara mengalirkan jalan pikiran peneliti menurut kerangka teori dan kerangka konsep yang logis, dengan kerangka berpikir deduktif. Biasanya disajikan dalam bentuk diagram alur.
h.   Hipotesis Penelitian.
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah yang akan diidentifikasikan. Bentuk kalimatnya adalah kalimat pernyataan menurut ketentuan “proporsional”, yaitu kalimat yang terdiri dari dua variable. Hipotesis penelitian diajukan setelah peneliti melakukan kajian pustaka, karena pada dasarnya penelitian adalah rangkuman dari kesimpulan teoritis yang diperoleh dari kajian pustaka.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
§  Kajian pustaka memuat dua hal pokok
1. Deskripsi teoritis tentang objek / variable yang diteliti.
2. Kesimpulan tentang kajian yang antara lain berupa argumentasi atas hipotesis yang telah diajukan pada bab 1.
§  Pemilihan bahan kajian pustaka didasarkan pada dua criteria:
1. Prinsip kemuthakiran (kecuali untuk penelitian historis)
2. Prinsip relevansi.
Setiap keerangan yang diperoleh dari sumber pustaka dan dicantumkan dalam karya tulis wajib diikuti keterangan acuan (rujukan).
BAB III METODE PENELITIAN
§  Rancangan Penelitian
Strategi mengatur latar penelitian agar peneliti memperoleh data yang valid sesuai dengan karakteristik variabel dan tujuan peneliti.
§  Populasi dan sampel
Populasi dan sampel tepat digunakan pada penelitian kuantitatif. Akan tetapi jika sasaran penelitiannya adalah seluruh anggota populasi, akan lebih cocok digunakan istilah subjek penelitian, terutama dalam penelitian eksperimental. Dalam survey sumber data lazim disebut responden dan dalam penelitian kualitatif disebut informan. Hal yang dibahas dalam bagian populasi dan sampel adalah:
1. Identifikasi dan batasan tentang populasi dan sampel.
2. Prosedur dan teknik pengambilan sampel.
3. Besarnya sampel.
§   Instrumen penelitian
Kemukakan instrument yang digunakan untuk mengukur variable, setelah itu dipaparkan prosedur pengembangan instrument pengumpul data atau pemilihan alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian.
§  Teknik pengumpulan data
Bagian ini menguraikan:
1. Langkah-langkah yang ditempuh dan teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data.
2. Kualifikasi dan jumlah petugas yang terlibat dalam proses pengumpulan data.
3. Jadwal serta waktu pelaksanaan pengumpulan data.
§   Analisis Data
 Uraikan jenis analisis statistic apa yang digunakan
BAB IV HASIL PENELITIAN
a.   Deskripsi data
Uraikan masing-masing variable yang diteliti. Dalam deskripsi data untuk masing-masing vaiabel dilaporkan hasil penelitian yang telah diolah dengan teknik statistic deskriptif, seperti : distribusi frekuensi, grafik atau histogram, nilai rerata, simpang baku, dll.
b.   Pengujian hipotesis
BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN
Tujuan dari bab pembahasan ini adalah :
1.    Menjawab masalah penelitian atau menunjukkan bagaimana tujuan penelitian dicapai.
2.   Menafsirkan temuan penelitian.
3.   Menganalisis hasil penelitian.
4.   Mengintegrasikan temuan penelitian ke dalam kumpulan pengetahuan yang telah mapan.
5.   Memodifikasi teori yang ada atau menyusun teori baru.
6.   Menjelaskan implikasi lain dari hasil penelitian, termasuk keterbatasan temuan penelitian.
BAB VI PENUTUP
1.   Kesimpulan
Kesimpulan terkait langsung dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian. Kesimpulan juga dapat ditarik dari hasil pembahasan. Kesimpulan penelitian merangkum semua hasil penelitian yang telah diuraikan secara lengkap dalam BAB IV.
2.   Saran
Saran yang diajukan hendaknya selalu bersumber pada temuan penelitian, pembahasan, dan kesimpulan hasil penelitian. Saran dapat ditunjukkan pada suatu instansi seperti pemerintahan, lembaga, ataupun swasta, ataupun pihak lain yang dianggap layak.
Daftar Pustaka
Ø Baris pertama di mulai pada margin sebelah kiri, baris kedua dan selanjutnya di mulai dengan 3 ketukan ke kanan.
Ø Jarak antar baris adalah 1,5 spasi.
Ø Daftar pustaka diurut berdasar abjad huruf pertama nama penulis.
Ø  Jika penulis yang sama menulis beberapa karya ilmiah yang dikutip, nama penulis harus dicantumkan ulang.
Teknik:
Ø Nama penulis yang diawali dengan penulisan nama keluarga.
Ø Tahun terbit karya ilmiah yang bersangkutan.
Ø Judul karya ilmiah dengan menggunakan huruf besar untuk huruf pertama tiap kata kecuali untuk kata sambung dan kata depan, ditulis dengan format huruf miring.
Ø Data publikasi berisi nama tempat kota dan nama penerbit.
Contoh:
Hadi, Sutrisno. 1984. Metodologi Research. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.
LAMPIRAN

Format Penulisan Untuk Karya Tulis IPA.
Pada dasarnya karya tulis sains memuat format yang sama seperti karya tulis lainnya seperti karya tulis social. Namun, ada perbedaan pada BAB III atau pada metodologi penelitian. Pada Penelitian Sains BAB III Metodologi diganti dengan “Bahan dan Cara Kerja”, yang di dalamnya memuat unsur:
BAB VII BAHAN DAN CARA KERJA.
Bab ini merupakan bab karya tulis yang penataannya disesuaikan dengan jenis penelitian yang dilakukan. Penyajian penelitian yang bercorak eksperimental dapat dibagi dalam empat bagian, yaitu:
A.  Lokasi
Dituliskan tempat dan waktu penelitian. Keterangan mengenai tempat diberikan selengkap mungkin. Jika perlu melengkapi koordinat dan petanya.
B.  Bahan
Diuraikan semua bahan yang digunakan dalam penelitian, baik sampel maupun bahan habis pakai, seperti bahan kimia. Penyebutan bahan yang digunakan hendaknya disertai keterangan yang terperinci. Misalnya bahan kimia hendaknya disertai dengan merk dagang.
  
Sumber : http://ycdyt.blogspot.com/2012/12/proses-penulisan-karya-ilmiah.html

Jumat, 15 Mei 2015

Fenomena Penggunaan Bahasa Indonesia

Wilayah penggunaan bahasa Indonesia di wilayah Indonesia kini semakin tergeser oleh penggunaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Hal tersebut merupakan salah satu dampak dari ketidak-siapan mental masyarakat Indonesia dalam menghadapi era perdagangan bebas dunia. Kemajuan zaman dan kebutuhan pengetahuan universal ditanggapi secara salah oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Sehingga tuntutan mengikuti perkembangan zaman mampu menggerus kebudayaan dan identitas bangsa, di antaranya yang paling penting adalah penggunaan bahasa Indonesia oleh masyarakatnya sendiri.

Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, bahasa komunikasi interbangsa, serta bahasa negara telah mendapat pengukuhan yang kuat, di antaranya pada konstitusi UUD pasal 36 c, UU No. 20 Th. 2003 mengenai bahasa Indonesia dalam sistem pendidikan nasional, dan UU No. 24 Th. 2009 mengenai Bahasa Negara. Khususnya pada UU No. 24 Th. 2009 dibahas secara mendetail mengenai peran dan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara di segala aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Maka, berdasarkan landasan-landasan tersebut, sebenarnya sudah tidak ada alasan bagi masyarakat Indonesia untuk memandang lemah dan menggeser peran bahasa Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, dan memang seharusnya kesadaran itu timbul dari masing-masing pribadi sebagai cerminan kuatnya karakter bangsa.

Keseriusan pemerintah bisa dibuktikan dengan segera mengeluarkan Peraturan Presidenmenyangkut undang-undang bahasa, untuk segera dilakukan penertiban dan penataan kembali penggunaan bahasa Indonesia terutama di ruang publik. Peraturan harus diselenggarakan dengan penuh disiplin, seperti misalnya pencabutan izin mendirikan bangunan bagi yang melanggar; mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia dalam rambu lalu lintas, marka jalan, papan peringatan, dan papan petunjuk; mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia dalam informasi produk barang atau jasa. Semua itu harus dilakukan dengan keseriusan dan tindak nyata yang pasti. Karena menurut saya tujuan tersebut sangatlah positif, dan dengan begitu kita secara tidak langsung memaksa pihak asing untuk mengikuti aturan yang kita buat, sehingga mereka akan belajar lebih banyak mengenai bahasa Indonesia yang akan membuat bahasa Indonesia lebih dikenal di kalangan dunia. Jika hal tersebut terus berlangsung, maka peluang menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa Internasional menjadi semakin besar.

Selain tugas pemerintah, yang paling harus memiliki kesadaran adalah masyarakat Indonesia itu sendiri. Masyarakat Indonesia harus bisa menjadi masyarakat yang cerdas dalam menanggapi tuntutan zaman, dengan menjadi masyarakat yang cerdas namun juga memiliki identitas dan karakter bangsa yang kuat. Sehingga di manapun ia berada akan dihargai. Maka masyarakat Indonesia mestinya cerdas dalam memilah kapan dia perlu menggunakan bahasa asing dengan tetap mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia.


Sumber : http://daduimaji.blogspot.com/2013/02/fenomena-terkini-penggunaan-bahasa-di.html


Jumat, 24 April 2015

Perkembangan E-commerce di Indonesia

Rasa-rasanya, setidaknya mengacu pengalaman penulis, semakin jamak di sekeliling kita, entah kawan atau kolega, memasarkan barang jualan pada akun pesan instan/media sosial miliknya. Terutama di BlackBerry Messenger, Facebook, Twitter, dan Instagram.Situasi ini sejalan dengan kian gempitanya bisnis dalam jaringan/daring, atau e-dagang (e-commerce), di tanah air belakangan. Fenomena pemanfaatan akun personal tadi adalah sedikit representasi dari kian banyak, sekaligus bervariasinya, perdagangan berbasis internet.

Ambil contoh rumah123.com untuk laman jual-beli-sewa properti, zenius.net (bimbingan belajar bentuk video SD s.d SMA), klik-eat.com (pesan-antar makanan), Gojek.com (transportasi), orori.com (perhiasan), bahkan pembantu.com (asisten rumah tangga).

Apa yang tersaji di awal tadi sebenarnya menandakan betapa kian sempurnanya struktur pasar e-dagang di Tanah Air. Terlebih, jika kita merujuk konsep e-commerce dari David Baum dalam “Buku Pintar Internet Membangun Web-E-Commerce (2000)”, maka semuanya sudah ada.Sebagai model bisnis, ada lima implementasi primer e-dagang. Pertama, model iklan baris (classified), dimana penyedia laman tidak terlibat proses jual beli secara langsung, namun mereka menawarkan iklan premium seperti dilakukan OXL. Kedua, model marketplace C2C (consumer to consumer), yang mana penyedia jasa memfasilitasi langsung transaksi untuk mengutip komisi seperti dilakukan Tokopedia dan Bukalapak. Ketiga,shopping mall, hanya penjual ternama yang bisa jualan model bisnis komisi seperti Blibli. Keempat, model toko daring B2C (business to consumer), yakni penjual skala besar pemilik barang menjual, memasarkan, bahkan mendistribusikan sendiri untuk bertumpu pada profit produk terjual seperti dilakukan Lazada, Bhineka, dan Zalora.Terakhir, model paling populer –karena dilakukan oleh banyak lapisan masyarakat di sekitar kita saat ini– tentu saja yang menggunakan media sosial dan pesan instan populer, dengan menerapkan skema bisnis profit per penjualan.Di mata penulis, yang menggelembungkan ini semua dengan cepat, selain banyak kota urban di Indonesia yang kian terjebak kemacetan kronis plus gaya hidup masyarakat makin praktis, tentu saja hal ini terkait guliran peminat serta nominal bisnis yang demikian besar.

Dalam beberapa kesempatan, baik Kementerian Perdagangan dan Departemen Komunikasi Informatika menyebutkan, pembeli daring tahun 2012 lalu 3,1 juta dari total pengguna internet 59,6 juta. Lalu, 4,6 juta dari 72,8 juta (2013) dan 5,9 juta pembeli dari 83,7 juta (2014).Tahun ini diperkirakan mencapai 7,5 juta dari 93,4 juta atau mendekati 10% populasi. Nilai bisnisnya? Tergolong jumbo, karena estimasi tahun ini 20 miliar dolar AS (Rp180 triliun) atau naiknaik lebih dari 2 kali lipat dari angka tahun 2013 sebesar 8 miliar dolar AS.Pun demikian, mengacu data yang penulis himpun, 42% pemimpin pasar eksisting e-dagang ini berasal dari perusahaan asing (Jepang 63%, Amerika Serikat 17%, Singapura 8%, Jerman 8%, serta Inggris 4%), murni modal Indonesia 50%, dan sisanya 8% joint venture.

Untuk itulah, proteksi bisnis lokal dan nasional harus jadi prioritas saat ini. Jangan sampai, seperti kita sudah saksikan sebelumnya, terutama dalam industri telekomunikasi seluler, bangsa kita sebatas konsumen di tengah hajat besar bangsa asing di rumah kita.Agar tak (lagi-lagi) jadi penonton, langkah utama yang harus dilakukan adalah memastikan pebisnis lokal, terutama sektor logistik/ekspidisi dan institusi keuangan (internet banking daninternet payment) dilibatkan pebisnis asing e-dagang dari sisi regulasi.

Regulator pun harus selalu memastikan, terutama pemain asing di sektor e-commerce, mutlak mematuhi aturan teknis. Seperti mulai dicanangkan Kementerian Keuangan melalui SE-62 tentang kewajiban perpajakan maupun Depkominfo soal sertifikasi pebisnis daring.


http://swa.co.id/my-article/memproteksi-pasar-e-dagang-tanah-air

Jumat, 17 April 2015

Contoh Kata Pengantar

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb
            Rasa syukur yang dalam ke hadiran Tuhan Yang Maha Pemurah, karena berkat kemurahanNya  penulis dapat menyelesaikan Penulisan Ilmiah ini. Adapun judul Penulisan Ilmiah adalah “ Analisis Perbandingan Perhitungan Deposito Bagi Hasil pada Bank BRI Syariah dan Bunga pada BRI Konvensional”.
            Tujuan dari penyusunan Penulisan Ilmiah ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar setara Sarjana Muda Ekonomi, Jurusan Manajemen Jenjang S1 pada Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma.
            Dengan segala keterbatasan, penulis sepenuhnya menyadari bahwa dalam Penulisan Ilmiah ini masih banyak terdapat kekurangan, baik dalam pembahasan maupun tata bahasanya. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati kiranya koreksi dan saran dari semuah pihak khususnya para pembaca sangat penulis harapkan demi kesempurnaan Penulisan Ilmiah ini.
            Penulis menyadari bahwa penulisan ini tidak dapar berjalan dengan baik tanpa adanya dukungan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam kelancaran tugas mata kuliah, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang setulusnya kepada:
1.      Ibu Prof. E.S. Margianti,SE,MM sebagai rector Universitas Gunadarma yang telah memberika kesempatan kepada penulis untuk pembuatan penulisan ilmiah ini.
2.      Bapak Toto Sugiharto, Ph.D selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma.
3.      Bapak Imam Murtono Soenhadji, Ph.D selaku Ketua Jurusan Manajemen Universitas Gunadarma.
4.      Ibu Fettiana Gianadevi, S.Kom., MMSI., selaku Koordinator Penulisan Ilmiah Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma.
5.      Bapak Heru Purnomo.SE, MM., selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan pengarahan dan bimbingandalam menyelesaikan penulisan ilmiah ini.
6.      Bapak dan Ibu Dosen, selaku staff pengajar Universitas Gunadarma yang turut membantu sehingga penulisan ilmiah ini dapat terselesaikan.
7.      Bapak Fadolin selaku pimpinan manajer pembiayaan PT. Bank BRI Syariah yang telah meluangkan waktunya untuk membantu penulis untuk memperoleh data.
8.      Untuk kedua orangtuaku tercinta yang telah memberikan semangat, kasih sayang dan dukungan moral maupun materiil serta doa restunya selama penyusunan penelitian ini sehingga selesai.
9.    Teman-teman di kelas 3EA04 yang telah turut memberikan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan ilmiah ini.
10.  Dan kepada semua pihak yang tidak dapat penulis sampaikan satu per satu yang telah memberikan bantuannya demi kelancaran penulisan ilmiah ini.
Akhir kata dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak tersebut diatas semoga Alah SWT membalas segala kebaikan dan keikhlasannya.
                                                                                                            Depok, 16 April 2015

                                                                                                                        Penulis